Kamu menatapnya dalam-dalam; menelan semua garis wajahnya dalam satu teguk, menyimpan warna iris matanya dalam sekedip.
Ia menatapmu.
Kamu tersenyum.
Kamu selalu bilang padanya kalau kamu ingin sekali hari ini datang. Namun, batinmu selalu menolak untuk menghidupinya—tak perlu malu-malu, bulan pun tahu. Kamu tidak mau kehilangan dirinya.
“Hari itu ia menggunakan parfum baru, entah dari mana didapatkannya itu.”

Leave a comment